Rabu, 09 April 2014

Wajah Sistem Pendidikan di Indonesia


Wajah Sistem Pendidikan di Indonesia


Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai orang tua. Benar tidak?
Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika anak kita hanya belajar di sekolah saja, sehingga kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les. Kita ingin anak kita pintar berhitung, kita ingin anak kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak kita jago fisika dan lain sebagainya. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.
Ini tiada lain karena, pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognisi. Dengan pemahaman seperti itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan. Apa itu? Yaitu memberikan pendidikan karakter pada anak didik. Saya mengatakan hal ini bukan berarti pendidikan kognitif tidak penting, bukan seperti itu!
Maksud saya, pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan karakter.
Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik. Lalu apa sih pendidikan karaker itu?
Jadi, Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter pada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang bernama FW Foerster. Pertama, pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut. Kedua, adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru. Ketiga, adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik.
Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam pola pendidikan yang diberikan pada anak didik. Misalanya, memberikan pemahaman sampai mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk, memberikan kesempatan dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati keputusan dan mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya, menanamkan pada anak didik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya, namun kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada pilihan tersebut.
Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.

Selasa, 08 April 2014

MENYIMAK

                             TUGAS   KEMAHIRAN MENYIMAK
                                      Dosen pengampu:Drs.Danuri,Mpd
                                                         
Oleh:
Kelompok:4
Maria Seriyanti(130401080023)
Ernasiana Lensi(130401080033)
Vinsensiana Sera Ahut(130401080028)

UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2014
                                                           



·        Pengantar
Dalam bab ini secara berturut-turut kita akan memperbincangkan hal-hal berkenan dengan .
A.   Aneka kendala menyimak efektif
·        Keegosentrisan
·        Keenggananikut terlibat
·        Ketakutan akan perubahan
·        Keinginan menghindari pertanyaan
·        Puas terhadap penampilan eksternal
·        Pertimbangan yang prematur
·        Kebingungan semantik
B.Perilaku menyimak  : a)menyimak faktual
b)menyimak empirik
C.meningkatkan perilaku menyimak
·        Menerima keanehan sang pembicara
·        Memperbaiki sikap
·        Memperbaiki lingkungan
·        Jangan dulu memberikan pertimbangan
·        Meningkatkan pembuatan catatan
·        Menyaring tujuan-tujuan menyimak yang spesifik
·        Memanfatkan waktu secara bijaksana
·        Menyimak secara rasional
·        Berlatih menyimak bahan-bahan yang sulit.







ANEKA KENDALA MENYIMAK

Ada berbagai kondisi yang internal yang menghalangi kita menjadi penyimak yang efektif.
1.Keegosentrissan
2.Keengganan ikut terlibat.
Berikut ini beberapa alasan ,mengapa orang enggan terlibat,antara lain yaitu:
Ø keterlibatan memancing reaksi yang spontan ,yang  kadang-kadang  tidak bisa diramalkan atau diatur sejak dini.
Ø kesan pribadi atau idola kita munkin saja terancam atau memelukan .
Ø kebebasan ikut  mengandung pula kebebasan  untuk menemui kegagalan.
Ø eterlibatan jelas menuntut dan memerlukan tenaga dan daya tahan

3. ketakutan akan perubahan.
4.keinginan menghindari pertanyaan.
5. puas  terhadap penampilan eksternal.
6.pertimbangan yang prematur
7.kebingungan semantik

B.PRILAKU MENYIMAK
Ada dua tipe prilaku dalam kegiatan menyimak yaitu:
v menyimak faktual,dan
v menyimak empati
1.Menyimak faktual
Penguasaan yang mantap terhadap teknik-teknik menyimak faktual ini justru memudahkan penyimak untuk menangkap serta memahami fakta-fakta,konsep-konsep,serta informasi yang disampaikan pembicara.
Aneka kegiatan atau prilaku yang kita lakukan  dalam menyimak faktual  yaitu:
a)memusatkan perhatian pada pesan-pesan orang lain dan,
b)berusaha mendapatkan fakta-fakta.
Menyimak faktual menuntut empat ketrampilan khusus,yaitu
ü Kita harus melibatkan diri secara total pada situasi komunikasi.
ü Kita harus menguasai seni atau kiat pembuatan catatan yang tepat guna.
ü Kita harus mencari serta menganalisis sarana-sarana penunjang  yang di utarakan oleh sang pembicara.
ü Kita harus mencari pola organisasi dan struktur keseluruhan sang pembicara
Menyimak faktual merupakan suatu ketrampilan dengan aneka penerapan yang tidak terbatas kegunaannya.bagi setiap situasi komunikasi sangat berguna misalnya:bagi para wartawan ,guru ,mahasiswa,hakim,reporter,lembaga konsumen,para juri dan sebagainya.
2.menyimak empatik
Menyimak empatik  kita untuk memahami sikap psikologis dan emosional
Pembicaraan dan bagaimana sikap mempengaruhi ujarannya menyimak empatik ini  dapat juga disebut  menyimak ktif atau menyimak pemahaman .
Ada beberapa prilaku yang dituntut dalam kegiatan menyimak diantaranya adalah:
a)memperhatikan isyarat-isyarat nonverbal
b)menempatkan diri pada posisi orang lain ,dan
c)memusatkan perhatian pada pesan ,bukan pada penampilan.

Agar dapat menjadi penyimak yang baik ,kita harus memusatkan perhatian pada pesan .
Ada beberapa cara untuk melakukan hal ini yaitu:
·        buatlah catatan mental dari butir-butir utama .
·        pikirkan dan renungkanlah kemungkinan adanya cara-cara lain untuk menunjang ide-ide utama sang pembicara.
·        cari dan dapatkanlah cara-cara yang telah di pakai oleh pembicara untuk mengorganisasikan atau memberi struktur terhadap penampilannya.
Ada  4 prilaku menyimak yang baik yaitu:
ü kalau anda tertarik pada suatu pesan tertentu atau ujaran tertentu,perlihatkanlah hal itu tanpa ragu-ragu.
ü kalau seorang pembicara tidak mengemukakan suatu pesan atau ujaran tertentu secara menarik  ,jangan ragu-ragu menujukan hal itu.
ü sikap dan gaya yang baik dan menarik hati menuntut keterlibatan 100% dalam situasi pembicaraan di muka umum.
ü kalau keterlibatan selanjutnya memang di perlukan ,jangan ragu-ragu menunjukkan atau memperlihatkan kepentingan hal itu.

B.MENINGKATKAN PRILAKU MENYIMAK
Ada beberapa langkah khusus untuk meningkatkan ketrampilan menyimak terutama bagi  peningkatan  prilaku menyimak yaitu:
1)menerima keanehan sang pembicara.
2)memperbaiki sikap.
3)memperbaiki lingkungan
4)jangan dulu  memberi pertimbangan
5)meningkatkan pembuatan catatan
6)menyaring tujuan-tujuan menyimak yang spesifik.
7)memenfaatkan waktu secara bijaksana
8)menyimak secara rasional.
9)melatih menyimak bahan-bahan yang sulit.



s